Nasib Sabung Ayam Darat

Nasib Sabung Ayam Darat

Nasib Sabung Ayam Darat Nasib Sabung Ayam Darat - Adu Ayam Jago atau umum dimaksud dengan Sabung Ayam atau AYAM ADUAN adalah permainan yang sudah dik

Teknik Bertarung Ayam Aduan
7 Ciri Ayam Bangkok Memiliki Pukulan Mematikan
Jenis Buah Manjur Untuk Atasi Ngorok Ayam Aduan
Ciri-Ciri Karakter Ayam Saigon Asli
7 Ciri Ayam Pakhoy Berkualitas

Nasib Sabung Ayam Darat

Nasib Sabung Ayam Darat – Adu Ayam Jago atau umum dimaksud dengan Sabung Ayam atau AYAM ADUAN adalah permainan yang sudah dikerjakan masyrakat di kepulauan Nusantara mulai sejak jaman dulu. Permainan ini adalah perkelahian ayam Jago yang mempunyai taji serta terkadan taji ayam jago ditambahkan dan di buat dari logam yang runcing. Permainan sabung ayam di Nusantara nyatanya bukan sekedar satu permainan hiburan semata untuk masyarkat, namun adalah satu narasi kehidupan baik sosial, budaya ataupun politik.

Permainan Sabung Ayam di pulau Jawa berawsal dari folklore (Narasi Rakyat) Cindelaras yang mempunyai ayam sakti serta diundang oleh raja Jenggala, Raden Putran untuk mengadu ayam. Ayam Cindelaras diadu dengan ayam Raden Putra dengan satu prasyarat, bila ayam Cindelaras kalah jadi ia bersedia kepalanya nya di pacung. Namun bila ayam nya menang jadi 1/2 kekayaan Raden Putra jadi punya Cindelaras. Dua ekor ayam itu bertaurng dengan gagah serta berani. Namun kurun waktu singkat, ayam cindelaras sukses menaklukan ayam sang Raja. Beberapa pemirsa bersorak sorai mengelu-elukan Cindelaras serta ayamnya. Pada akhirnya Raja mengaku kehebatan ayam Cindelaras serta ketahui kalau Cindelaras tidak beda yaitu putranya sendiri yang lahir permaisurinya yang terbuang karena iri dengki sang selir meski sekarang memang ada judi sabung ayam.

Sabung ayam juga jadi satu momen politik pada saat lampau. Cerita kematian Prabu Anusapati dari Singosari yang terbunuh waktu melihat sabung ayam. Kematian Prabu Anusapati berlangsung pada hari Buddha Manis atau Rabu Legi saat di kerajaan Singosari tengah berjalan keramaan di Istana Kerajaan salah nya ialah pertunjukan Sabung Ayam. Ketentuan yang berlaku yaitu siapa saja yang juga akan masuk dalam arena sabung ayam dilarang membawa senjata atau keris. Sebelumnya Anusapati pergi ke Sabung Ayam. Ken Dedes ibu Anusapati memberikan nasehat anaknya supaya janganlah melepas keris pusaka yang sudah dipakainya bila menginginkan melihat sabung ayam diadakan di Istana, namun sebentar sabung ayam belum juga dikerjakan Anusapati melepasakan keris nya atas tekanan Pranajaya serta Tohjaya. Ketika itu diarena berlangsung kekacauan serta pada akhirnya momen yang dikhawatirkan Ken Dedes terjai di mana kekacauan itu merengut nyawa Anusapati yang tergeletak mati diarena sabung ayam dibunuh adiknya Tohjaya yang ditusuk dengan keris pusakanya sendiri.

Lalu Jenazah Anusapati dimakamkan di Candi Penatran serta peristiwa itu tetaplah dikenang orang, Anusapati yaitu kakak dari Tohjaya dengan ibu Ken Dedes serta Ayah Tunggul Ametung sedang Tohjaya yaitu anak dari Ken Arok dengan Ken Umang itu memanglah diriwayatkan mempunyai kegemaran menyabung ayam. Memanglah dalam narasi rakyat terlebih Ciung Wanara menceritakan kalau keberuntungan serta perubahan nasib seorang ditetapkan oleh kalah menangnya ayam diarena sabung ayam, demikian halnya Anusapati bukanlah kalah dalam adu ayam namun dalam permainan ini ia terbunuh.

Sedang di Bali permainan sabung ayam dimaksud dengan Tajen. Tajen berasal-usul dari tabuh rah, satu diantara yadnya (Upacara) dalam masyrakat Hindu di Bali. Maksudnya mulia, yaitu mengharmoniskan jalinan manusia dengan bhuana agung, Yadnya ini robohan dari upacara yang sarananya memakai binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, serta beragam type hewan peliharaan beda. Persembahan itu dikerjakan lewat cara nyambleh (leher kurban dipotong sesudah dimanterai. Terlebih dulu juga dikerjakan ngider serta perang sata dengan peralatan kemiri, telur, serta kelapa. Perang sata yaitu pertarungan ayam dalam rangkaian kurban suci yang dikerjakan tiga partai (telung perahatan), yang melambangkan penciptaan, pemeliharaan, serta pemushan dunia. Perang sata adalah lambang perjuangan hidup.

Kebiasaan ini telah lama ada, bahkan juga sejak jaman Majapahit. Waktu itu menggunakan arti menetak gulu ayam. Pada akhirnya tabuh rah merembet ke bali yang berawal dari pelarian beberapa orang majapahit, sekitaran th. 1200. sama dengan beragam kesibukan beda yang dikerjakan masyrakat bali dalam melakukan ritual, terutama yang terkait dengan penguasa jagad, tabuj rah mempunyai dasar yang bertumpu pada basic sastra. Tabuh rah yang sering diadakan dalam rangkaian upacara Butha Yadnya juga banyak dimaksud dalam beragam lontar. Umpamanya, dalam lontar siwa tatawapurana yang diantaranya mengatakan, dalam tilem kesanga (waktu bln. sekalipun tidak terlihat pada bln. ke-9 penanggalan bali). Bathara Siwa membuat yoga, waktu itu kwajiban manusia dibumi berikan persembahan, lalu diselenggarakan pertarungan ayam serta dikerjakan Nyepi satu hari. Yang di beri kurban yaitu sang Dasa Saat Bumi.